____________________
Alert !
Cerita memiliki Hak Cipta
____________________
Karya : Diansya Aura
Aku melongok ke dalam kamar Mbak Sarah saat kulihat sosok Mas Damar, suami kakakku satu-satunya itu masih belum juga keluar kamar.
Jam segini biasanya Mas Damar sudah duduk di meja makan untuk sarapan pagi dan bersiap-siap menuju ke kantor. Aku sendiri biasanya juga sudah selesai sarapan dan akan menumpang mobil Mas Damar untuk menuju ke kampus yang lokasinya tidak jauh dari kantor advokat tempat Mas Damar bekerja.
Namun, hingga menjelang pukul tujuh pagi ini, sosok Mas Damar masih belum juga keluar dari kamar. Bahkan sekilas tadi kulihat sarapannya pun belum disentuh. Kemana Mas Damar ya? Benakku diliputi tanda tanya.
"Vin, nanti kamu kuliah naik oplet atau numpang temen aja ya. Hari ini Mas Damar mau nganterin mbak ke spesialis kandungan. Jadi nggak bisa nganterin kamu."
Belum sempat aku bertanya, Mbak Sarah sudah muncul di depanku dan seolah tahu isi hatiku, ia menjelaskan keadaan Mas Damar yang pagi ini sepertinya tidak bisa memberi tumpangan karena harus mengantar kakakku itu pergi ke dokter.
Mendengar kata-kata Mbak Sarah, aku menaikkan alis tanda tak setuju. Apa? Berangkat kuliah sendiri? Nggak, ah! Itu artinya aku harus jalan kaki dari pintu gerbang kampus menuju gedung perkuliahan yang jaraknya sekitar tiga ratus meter karena oplet tak boleh masuk area kampus. Dan itu artinya juga aku tidak bisa menuntaskan rasa rindu ingin berdekatan dan berduaan dengan Mas Damar pagi ini.
Semua gara-gara Mbak Sarah! Rencana semalam ingin tampil cantik untuk menarik perhatian Mas Damar gagal karena dia. Mas Damar tidak bisa memberi tumpangan ke kampus karena harus menemaninya ke dokter. Arrgh ....
"Ke spesialis kandungan? Ngapain sih, Mbak ke spesialis segala?" Aku bertanya dengan nada tidak suka.
"Periksa kandungan, Vin. Sudah dua minggu, Mbak telat haid. Mudah-mudahan kali ini positif," jawab Mbak Sarah dengan mata berbinar.
Melihat binar itu, ada perasaan tak rela menyelusup menembus lubuk hati. Entah sejak kapan perasaan ini muncul tetapi akhir-akhir ini rasa tidak nyaman pada Mbak Sarah memang mulai menodai segumpal daging bernama hati. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan Mas Damar, seperti saat ini.
Jika benar Mbak Sarah hamil, alamat makin berat perjuanganku untuk mendapatkan perhatian Mas Damar. Kakak Ipar ku yang ganteng, berwibawa, berkharisma, cool dan smart itu. Ini tidak boleh dibiarkan!
"Oh, Mbak mau periksa kehamilan? Kan ada tes pack, Mbak. Tinggal beli, celup, ketahuan kan positif atau enggaknya. Ngapain harus capek-capek ke dokter? Antrinya lama, bayarnya mahal lagi," ujarku enteng, acuh tak acuh.
Mendengar ucapanku yang bernada ketus, Mbak Sarah terdengar menghela nafas. Ia kemudian berucap setengah mengeluh. "Sudah dites semalam, Vin. Tapi garisnya samar, makanya Mbak ingin memastikan saja ke dokter, sekalian kalau memang belum positif, Mbak mau tanya-tanya soal program kehamilan, karena ini sudah tahun ketiga pernikahan Mbak sama Mas Damar, tapi Mbak belum juga hamil," ujar Mbak Sarah lagi dengan suara pelan.
Mendengar kata-katanya hatiku makin tak karuan. Mbak Sarah mau ikut program kehamilan? Nggak bisa! Mbak Sarah nggak boleh hamil! Aku tidak mau Mbak Sarah mendapatkan anak dari Mas Damar. Aku bahkan ingin mereka bercerai saja, lalu ... aku akan menjadi pengganti Mbak Sarah dalam hidup Mas Damar!
"Mbak, jangan mendahului takdir. Kalau Mbak belum punya keturunan, artinya Tuhan belum berkenan memberi amanah sama Mbak. Sabar aja, dan perbanyak doa. Kalau sudah waktunya, Mbak pasti hamil, kok," selaku ringan.
Mendengar kalimatku, Mbak Sarah kembali menghembuskan nafas. Ia kemudian membuka mulut kembali. "Tapi, manusia kan diwajibkan ikhtiar, Vin. Ikhtiar dan berdoa. Kalau berdoa, insyaallah udah Mbak lakukan, tapi ikhtiar yang memang belum pernah Mbak dan Mas Damar lakukan, makanya pagi ini Mbak mau ke dokter, untuk mengecek kesuburan dan menanyakan penyebab terlambat haid sekarang ini. Semoga, kali ini Mbak beneran hamil karena Mas Damar sudah tidak sabar menginginkan keturunan," ucap Mbak Sarah sedikit dikuasai emosi.
Mungkin Mbak Sarah memang sudah sangat menginginkan kehamilan itu. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Pasti ia sudah sangat merindukan buah hati. Namun, jika Mbak Sarah benar-benar hamil, maka rencana untuk memisahkan Mas Damar dari Mbak Sarah pasti akan sulit terlaksana.
Sudah enam bulan sejak tinggal di rumah ini, segala perhatian yang kucurahkan pada Mas Damar belum mendapat timbal balik yang sepadan. Meskipun tidak menghindar, tetapi Mas Damar belum memberikan respon seperti yang kuharapkan. Padahal sejak pertama kali bertemu dengannya, perasaanku sudah dibuat tidak karuan. Siang malam sosok Mas Damar bertahta di benakku.
"Vin? Kok malah ngelamun? Sana buruan, entar keburu siang. Dari sini ke kampus kan jauh, nanti telat kamu!" seru Mbak Sarah memutus lamunanku.
Kembali aku menatap Mbak Sarah dengan nada protes. Tidak! Aku tidak mau berangkat sendiri. Bagaimana pun caranya, aku harus bisa membuat Mas Damar mengantarku ke kampus. Kalau tidak, percuma dong semalaman tadi aku sibuk treatment di kamar sendiri agar seluruh bagian tubuhku termasuk rambut sebahu ini berbau wangi dan bersih.
Kemarin aku sudah membeli beberapa jenis lulur tubuh yang wanginya tahan lama. Begitu pula creambath dan hair mist yang membuat aroma kepalaku berbau harum semerbak. Ditambah parfum tubuh dan penampilan yang selalu seksi, Mas Damar pasti akan memperhatikanku. Ya, kalau Mas Damar laki-laki normal, tidak lama lagi ia pasti jatuh dalam pelukanku. Semua laki-laki normal pasti bisa memilih dengan baik antara aku dan Mbak Sarah.
"Mbak, plis dong. Minta Mas Damar buat anterin aku dulu. Soalnya jalan masuk ke kampus tuh jauh ke dalam, Mbak. Bisa kram kakiku kalau harus jalan pake hak tinggi begini." Aku menunjukkan high heels yang kukenakan dengan harapan Mbak Sarah luluh dan bersedia meminta Mas Damar mengantarku ke kampus. Namun, Mbak Sarah justru menggeleng kecil.
"Tapi, Mbak udah mau berangkat juga nih, Vin. Nanti keburu dokternya ada urusan yang lain. Kamu kan bisa minta tolong temen jemput di gerbang atau nebeng mahasiswa lain yang bawa kendaraan sendirian. Masa begitu saja nggak bisa?"
"Nggak bisa, Mbak. Pagi-pagi begini tuh semua mahasiswa pasti buru-buru ngejar masuk kelas semua. Nggak akan deh ngurusin orang lain. Plis, Mas Damar aja nganterin aku ya. Bentar lagi udah mau masuk nih," rengekku lagi. Biasanya kalau sudah begini, Mbak Sarah pasti luluh dan akan mengabulkan permintaanku.
"Hmm ... gimana ya. Ya udah, tunggu bentar, Mbak tanya dulu bisa nggak Mas Damar nganterin kamu dulu." Mbak Sarah kemudian masuk kamar dan menemui Mas Damar.
Beberapa saat kemudian, Mbak Sarah keluar kembali sembari berucap, "ya, udah. Siap-siap, biar Mas Damar antar kamu dulu baru nanti nganterin, Mbak."
Mendengar kata-kata Mbak Sarah aku tersenyum girang. Nah, gitu dong, nggak tahu saja aku sudah capek-capek menyusun rencana manis buat Mas Damar pagi ini. Ya, aku harus bisa membuat Mas Damar jatuh ke dalam pelukanku.

0 Comments