Cerita : Orang Tuaku Dan Keluh Kesahku Dimasa Kecil

by - Januari 15, 2020

Cerita : Orang Tuaku Dan Keluh Kesahku Dimasa Kecil

Cerita : Orang Tuaku Dan Keluh Kesahku Dimasa Kecil


Ini adalah cerita tentang orang tuaku. Dahulu aku mempunyai keluarga yang sangat indah. Semuanya berjalan dengan baik seperti semua orang. Rasanya bahagia sekali melihat kedua orang tuaku ini berbahagia. Mereka tersenyum dengan indah. Aku pun juga sangat bahagia melihatnya.

Saat aku kecil, aku bisa mendapatkan apa saja yang aku mau. Aku sangat disayangi sekali oleh kedua orang tuaku. Aku kini adalah anak kedua dari 5 bersaudara, yang saat itu aku hanya mempunyai kakak perempuan dan adik laki-laki. Terkadang aku bertengkar dengan mereka.

Tapi orang tuaku selalu memisahkan kita. Mereka menjaga kami sebaik-baiknya. Aku ingat dulu pernah minta dibelikan sebuah mobil mainan yang bisa dimainkan dengan remote control. Dan pada saat itu aku dibelikan mainan itu dan kakakku dibelikan sebuah alat masak-masakan. Aku pun senang sekali, mendapatkan mainan baru yang sangat luar biasa.

Kita adalah keluarga kecil tak lebih dan tak kurang. Tapi kita mencoba untuk menjadi keluarga yang bahagia selamanya. Orang tuaku selalu menjaga kami dengan baik.

Waktu aku kecil aku disekolahkan di sekolah dasar dan dua tempat pengajian. Tentu saja karena kedua orang tuaku ingin aku menjadi anak yang sholeh dan menjadi anak yang baik. Nama ku pun dibuat seindah mungkin dengan agama kami. Orang tuaku sungguh sangat menyayangiku.
Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku tidak menanggap semuanya beban. Aku tidak pernah mengeluh. Semuanya aku jalani dengan sangat bahagia, bahkan aku pun senang sekali melakukannya. Bersekolah dan mengaji 2 kali dalam sehari adalah nikmat yang sangat berharga dalam hidupku.

Orang tuaku terkadang juga menjadi sedikit seram, saat aku sedikit nakal. Mereka langsung saja memarahiku. Seperti saat aku pulang larut malam. Ayahku yang pada saat itu selalu saja mendatangiku dan membawa sebuah gagang kayu. Ini beneran sungguh menakutkan.

Terkadang aku sempat menangis, karena aku takut akan dipukulnya. Tetapi sungguh kasih sayang orang tua adalah yang terbaik. Mereka melakukan ini agar aku bisa menjadi lebih baik. Dan tidak menjadi anak yang tidak berarti dalam kehidupan ini. Jika dipikir-pikir lagi sekarang ada banyak sekali orang tua yang bahkan tidak perduli dengan anaknya sendiri. Aku berterima kasih kepada orang tuaku, karena dia sangat menyayangiku.

Saat dahulu semua kehidupan kami berjalan baik-baik saja. Kita bahkan sering pergi liburan ketempat-tempat yang menyenangkan. Aku ingat sekali aku pernah dibawa menaiki kuda waktu itu. Tapi dengan cerobohnya aku terjatuh dan masuk kedalam saluran air. Aku hanya bisa terdiam terkejut. Tetapi ayahku langsung menolongku dan membawa diriku.

Aku juga pernah berlibur ke tempat yang aku lupa namanya tetapi masih bisa aku rasakan hingga sekarang. Rasanya sangat hangat sekali. Aku bisa melihat wajah kedua orang tuaku sangat bahagia dan bahkan seluruh keluarga kami pun terlihat bahagia.

Sungguh aku sangat menyayangi kedua orang tuaku. Mereka adalah pahlawan yang terhebat bagiku.
Aku mempunyai luka yang sampai saat ini masih berbekas. Luka ini aku dapatkan saat aku jatuh di sebuah saluran air. Aku tanpa sadar terjatuh dan sudah berada dalam selokan air. Aku terkejut sekali. Tetapi aku melihat ibuku yang dengan sigap langsung menolongku. Aku kira aku sudah baik-baik saja saat itu. Tapi ternyata aku salah.

Ibuku melihat ada luka dibelakang tubuhku dan ibuku pun terkejut. Aku langsung dibawa kerumah sakit. Saat itu aku menangis, bukan karena sakitnya. Tapi karena aku takut dan melihat wajah orang tuaku menangis membuat aku sedih sekali.

Waktu itu aku sama sekali tidak merasakan sakit. Aku hanya takut orang tuaku memarahiku karena ceroboh. Saat dibawa kerumah sakit yang kulihat hanya cahaya putih dan seseorang yang sedang berbicara. Setelah itu semuanya menjadi gelap dan akupun tertidur.

Tidak lama setelah itu, akupun terbangun dan melihat kedua orang tuaku berada disampingku. Mereka bahagia melihatku dan aku diberikan es krim oleh seseorang yang bernama dokter. Orang itu sangat baik sekali.

Setelah itu baru aku merasakan sakit, bagian belakang tubuhku sangat sakit sekali. Ternyata aku mendapatkan luka di bagian belakang tubuhku yang saat itu di operasi. Luka ini sangat menyebalkan sekali, membuatku susah tidur, bermain dan mandi. Aku sangat tidak suka ini.

Tetapi sekali lagi orang tuaku membantuku, dan terkadang meledekku. Seperti saat aku mandi, aku dibilang seperti kodok karena posisiku yang harus seperti itu. Karena luka ini belum boleh terkena air. Aku waktu itu sempat tertawa. Tapi aku berpikir orang tuaku sangat hebat dapat memandikanku dengan baik tanpa terkena lukaku.

Semuanya baik-baik saja. Ya semuanya sangat indah, kita adalah keluarga yang sangat bahagia.
Hingga suatu saat. Terjadi krisis moneter di dunia, sebuah tragedi yang membuat banyak sekali perusahaan dan pengusaha tutup. Disini ayahku sangat frustasi karena ayahku harus berhenti dari pekerjaannya. Ayahku tidak dapat berlayar lagi.

Seketika kondisi keluarga kami sangat memburuk. Kita kekurangan uang. Mencari pekerjaan pada saat ini sangat sulit sekali. Karena sedikit sekali perusahaan yang mampu bertahan, itupun mereka sudah mengurangi jumlah karyawannya.

Ini adalah masa-masa yang sulit..

Aku tidak bisa makan seenak yang dulu lagi. Aku tidak bisa bermain mainan yang bagus lagi. Dan aku sudah tidak pernah berlibur lagi.

Tetapi ayahku pun tidak menyerah, ia tetap berjuang sekuat tenanga mencari pekerjaan. Yang terkadang ayahku bekerja serabutan. Tetapi itu cukup unuk memberi makan keluargaku.

Ayahku sudah berjuang dengan sangat baik. Aku adalah anak yang tidak pernah meminta banyak. Selama keluargaku bahagia, maka akupun bahagia. Aku bahkan sering sekali makan hanya dengan menggunakan garam pada saat itu. Sangat lezat sekali loh, aku tidak tau bahwa aku pernah membuat onigiri pada saat aku kecil hehe..

Aku tidak pernah mengeluh. Karena aku tau bahwa orangtuaku sudah berusaha sekuat tenaga. Aku pernah bersifat egois karena aku ingin membeli jajanan seperti teman-temanku. Aku pun memintanya kepada orang tuaku. Tapi sampai aku menangispun aku tidak dibelikannya. Padahal waktu itu aku sudah tau bahwa orang tuaku sedang susah tapi aku tetap bersifat egois.

Hari-hari berlalu aku belajar untuk tidak sering menyusahkan kedua orang tuaku. Karena terlihat dari wajah ayahku terkadang ia terlihat sedih dan frustasi. Aku dan kakakku sudah sering di pukul untuk keinginan kami yang egois. Tapi aku yakin saat itu pasti itu yang terbaik.

Aku mulai belajar untuk tidak boros. Aku masih mengaji di dua tempat loh dan masih bisa bersekolah juga. Aku tidak mau menambah beban orangtuaku lagi. Aku berusaha untuk membahagiakannya. Agar wajah kesedihan dan frustasi dapat hilang dari kedua orang tuaku.

Aku adalah anak yang pintar, ini adalah anugrah yang luar biasa  yang aku miliki. Aku selalu mendapatkan juara kelas padahal aku tidak pernah belajar giat. Luar biasa sekali bukan. Aku selalu mendapatkan nilai sempurna disetiap ujian.

Saat Tk pun aku sudah membiasakan diri untuk menabung. Aku hanya diberikan uang saku sebesar 2 ribu rupiah setiap hari. Itupun jika aku sekolah dan mengaji. Tapi uang itu aku dapat tabung sebaik mungkin.

Aku hanya membelanjakan uangku sebesar 500 untuk membeli permen atau 2 buah gorengan agar dapat menahan laparku setiap hari. Karena ibuku masih bisa memasak saat itu jadi aku sedikit terbantu. Masakan ibuku sangat enak sekali loh.

Yang sangat sulit adalah saat ibuku tidak memasak lagi. Aku tau saat itu adalah kondisi yang sangat buruk. Padahal jika hanya dimasakan sebuah nasi aku masih sanggup untuk menahan lapar. Tapi saat ibuku sudah tidak masak itu adalah kondisi yang sangat buruk.

Kondisi seperti ini sudah sering terjadi, jadi aku terkadang meminta nasi kepada tetanggaku. Merekapun memberikannya dengan senang hati, karena aku adalah anak baik dan pintar. Terkadang aku juga diberikan lauknya. Itu sangat membahagiakan sekali karena lauknya adalah daging dan ikan. Itu adalah makanan terenak yang jarang sekali aku makan.

Aku sudah biasa dengan kondisi ini dan kita pun selalu melaluinya. Yang aku pikirkan pada saat itu adalah, bagaimana dengan kedua orang tuaku? Apakah dia hanya menahan lapar seharian penuh saat kondisi seperti itu. Karena aku tidak pernah sama sekali melihat kedua orangtuaku meminta nasi kepada tetangga.

Orangtuaku sungguh sangat luar biasa. Aku pun tidak mau kalah dengan mereka, aku harus menjadi luar biasa juga. Aku pun terkadang mulai membantu mencari uang untuk menolong kedua orang tuaku. Terkadang aku ikut tetanggaku yang sudah kurang waras tetapi ia masih giat bekerja. Ia bekerja mengumpulkan botol-botol kosong untuk dijual.

Aku pun terkadang bekerja dengan dia bersama adikku. Mengumpulkan botol botol yang berserakan ditempat sampah maupun di jalan. Ini tidak sulit ko tapi hanya terkadang berat sekali jika karung yang kami bawa sudah penuh. Tapi meskipun begitu aku tidak pernah mempermasalahkannya. Karena orang ini, meskipun dia kurang waras. Tetapi dia selalu bahagia dan selalu tertawa. Melihat wajahnya yang seperti itu membuat aku sadar bahwa tidak ada yang berat di dunia ini.

Mungkin banyak sekali yang memandangnya sebelah mata. Tapi bagiku dia adalah orang yang hebat. Bahkan dia sering sekali mengajari ku dengan perkataanya. Seperti saat aku sudah lelah dan bilang “tidak bisa”, dia seketika langsung memerahiku dan berkata “ ga ada yang di dunia ini yang ga bisa, Cuma lu nya aja yang gamau nyoba”. Perkataanya membuat ku sadar, mungkin bagi yang lain dia adalah orang yang kurang waras tapi bagiku dia adalah orang hebat.

Aku sering sekali ngebantah ko, tapi dia selalu menunjukan caranya dan itu benar-benar menjadi lebih baik.

Hidup kekurangan di kota yang besar seperti Jakarta ini adalah hal terberat yang aku rasakan sejak kecil. Bertahun-tahun aku menjalani kehidupan seperti ini. Sungguh tidak mudah sama sekali.
Tetapi aku tidak minder sama sekali di sekolah. Bahkan aku mempunyai banyak teman sekali. Setelah SMP Aku adalah murid pintar yang nakal. Itu semua aku lakukan karena menurutku itu menyenangkan.

Menyenangkan hanyalah alasanku saja, aku sebenarnya hanya ingin diperhatikan.
SMP adalah sekolah yang terberat dalam hidupku. Karena aku bertemu dengan banyak orang-orang yang luar biasa. Ada yang super kaya, super pintar dan bahkan super terkenal. Itu semua adalah hal yang tidak mungkin aku kalahkan. Jadi aku sedikit mencoba membuat kegaduhan dikelas tetapi tetap menjadi murid yang pintar. Jadi tidak ada guru yang benar-benar membenciku.

Disekolah ini aku sudah mulai mengenal gengsi, aku pun terkadang suka menjaga image agar aku tidak terlihat seperti orang yang benar-benar kekurangan ekonomi. Jadi aku sangat berhati-hati bergaul.

Tetapi sangat susah sekali. Disini benar-benar kumpulan orang-orang yang sangat mewah. Aku tau jika aku mengikutinya aku akan membebankan kedua orang tuaku. Jadi aku hanya mencoba berbaur dan tidak pernah sungguh-sungguh mengenal mereka.

Aku tidak mau membebankan kedua orang tuaku lagi. Hingga pada titik inilah diriku menjadi palsu. Aku menjalani kehidupan di SMP dengan menjadi orang yang palsu yang merupakan kesalahanku yang pertama.

Tetapi aku masih pintar ko. Bahkan waktu kelas 8 aku masuk kedalam kelas unggulan. Kelas ini bahaya banget loh, bukan Cuma karena orang-orangnya yang sangat kaya. Tetapi ini adalah kumpulan orang-orang yang super pintar. Bahaya banget deh kelas ini.

Tetapi aku tetap menjalaninya. Aku tetap palsu dan mencoba membaur terhadap mereka. Terkadang aku juga bermain ke kelas yang terbelakang. Tentu saja sekolah elit seperti ini mempunyai kelas unggulan dan kelas terbelakang. Kelas terbelakang adalah kelas yang berisi orang-orang yang tidak naik kelas. Jadi ini adalah kelas terburuk seperti kebanyakan orang bilang.

Tetapi aku suka bermain disini. Karena banyak dari mereka yang nakal yang mencari kesenangan dengan mudah. Masuk ke kelas unggulan membuatku seperti terkekang karena mereka semua kaku dan hanya berpura-pura. Melainkan kelas ini, aku lebih suka kelas ini. Karena mereka nyata dan aku juga merasa paling pintar disini hehe..

Terlepas dari itu semua akupun banyak sekali menemukan teman-teman yang baik yang terkadang mengerti diriku. Aku bahkan terkadang lupa dengan kedua orang tuaku. Aku mungkin banyak belajar hal-hal yang tidak baik disini. Tetapi karena itu menyenangkan akupun tetap melakukannya tanpa memikirkan kedua orang tuaku.

Hingga akhirnya aku menginjakan kaki di kelas terakhir, yaitu kelas 9. Yang pada akhirnya kita akan menghadapi ujian agar bisa melanjutkan ke sekolah selanjutnya.

Di kelas ini sungguh aku sudah benar-benar terbawa oleh suasana sekolah ini. Aku tidak tau apakah aku bergaul dengan orang yang salah atau tidak. Aku hanya mengikuti alur hidupku yang aku tidak tau akan sampai kemana hidupku ini.

Semuanya berjalan luar biasa. Banyak hal-hal hebat yang aku lakukan yang jika aku ceritakan mungkin bisa menjadi sebuah buku. Tetapi aku tetap bahagia bisa bersekolah disini.

Di kelas 9 ini aku jarang sekali berkomunikasi dengan orang tuaku lagi. Aku sering pulang larut dan aku sering berbuat hal yang tidak baik. Aku melakukannya tanpa memikirkan orang tuaku.

Hingga akhirnya pada suatu saat ayahku jatuh sakit dan dilarikan kerumah sakit. Yang aku bahkan tidak tau apa itu penyakitnya. Tetapi setelah dokter memeriksanya, ayahku menderita penyakit yang sangat parah sekali. Ayahku mendapatkan komplikasi jantung, paru-paru, ginjal dan hati. Aku benar-benar terkejut sekali. Bahkan aku pun tersedih saat menuliskan kisah ini kembali.

Ayahku yang selama ini berjuang keras untuk keluargaku tenyata benar-benar berjuang. Ayahku menahan sakitnya itu yang luar biasa tanpa diketahui oleh satu pun dari keluarga kami.

Sungguh ayah, kamu adalah lelaki terhebat yang aku temui.

Tentu saja dengan penyakit yang separah itu, tidak akan mungkin lagi bisa disembuhkan. Aku sudah tau waktu itu. Maka aku pun sering menjaganya di rumah sakit. Aku pun menginap mengurusnya dan aku berangkat sekolah dari rumah sakit.

Aku adalah anak yang tegar aku sudah tau itu semua tapi aku tidak mau terlihat putus asa. Aku mau melakukan yang terbaik.

Ini tidak mudah, ayahku sempat koma. Dan itu membuat seluruh keluarga kami panik. Tapi hanya aku yang terlihat tenang. Mungkin karena aku sudah tau itu semua. Dan itulah hal pertama yang aku benci saat aku menjadi pintar.

Tidak lama setelah itu, selama beberapa bulan. Aahh.. seperti apa waktu itu ya?

Kejadiannya mungkin senin malam tepat menuju hari selasa. Ayahku menghembuskan nafas terakhirnya. Saat itu aku menangis kencang sekali, sulit rasanya menahan air mata ini meskipun aku tau ini semua akan terjadi.

Malam itu, dimana itu adalah malam yang penuh air mata dalam keluargaku.
Aku tidak bisa tertidur lagi. Tatapanku kosong, karena aku terkejut ini semua benar terjadi. Waktu itu yang aku ingat aku sedang dalam Try-Out Ujian Nasional. Satu pikiranku tertuju ke titik itu. Aku harus pergi ujian, aku tidak boleh melewatkannya. Itu adalah pikiran pertama yang muncul di kepalaku pada pagi hari.

Di sekolah aku masih memiliki tatapan kosong. Aku bisa mendengar mereka semua memanggilku dan membicarakan tingkah anehku. Tapi aku tetapi tidak bisa melakukan apa pun. Pikiranku pada saat itu hanya segera mengerjakan soal dan langsung pulang memakamkan ayahku.

Dan akhirnya kelas dimulai. Pengawas memberikan soalnya dan aku berkata “ahhh aku tidak bisa mengerjakannya sama sekali” karena dalam pikiranku hanya terdapat cahaya putih. Aku benar-benar tidak bisa memikirkan apapun.

Setelah setengah jam terlihat seorang guru Bimbingan Konseling mendatangkan kelasku dengan wajah panik. Aku sudah tau apa yang dia akan katakan. Dan benar saja dia membuat semua kelasku panik dan memanggilku.

Ternyata dibawah sudah ada tetanggaku yang siap menjemputku..

Aku sudah sampai rumah dan ambulan sudah siap didepan rumahku. Aku pun segera mengganti baju dan naik kedalam ambulan bersama dengan jenazah ayahku. Apa kamu tau? Sepanjang perjalanan aku mengeluarkan air mata yang banyak sekali di depan jenazah ayahku.

Meskipun ada tetangga dan ustadz yang bilang aku gaboleh nangis dan mengikhlaskannya. Tetapi aku tetap tidak bisa. Apakah aku saja yang merasakannya? Karena sepanjang perjalanan itu muncul semua kenangan-kenangan bersama ayahku. Bagaimana bisa aku tidak menangis…

Hingga akhirnya aku tiba di tempat terakhir dalam kehidupan manusia. Aku melihatnya ayahku yang perlahan meninggalkanku. Disaat-saat terakhir itu aku berjanji akan melindungi keluarga ini dan menjaganya dengan sekuat tenaga. Aku pun berterima kasih kepada ayahku, karena telah menjadi orang yang hebat dalam keluargaku. Terima kasih..

You May Also Like

0 Comments